Friday, March 6, 2015

Sulbar bangun gudang fermentasi kakao

Pewarta: M Faisal Hanapi

















Pekerja menjemur biji kakao di Desa Bora, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (21/10). Petani kakao kembali memelihara tanaman mereka karena harga kakao di tingkat petani terus mengalami kenaikkan dari Rp21.000 per kilogram menjadi Rp29.000 per kilogram.

Mamuju (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat membangun gudang fermentasi kakao dalam rangka meningkatkan kualitas kakao yang ada di Sulbar pada 2015.

Kepala Bidang Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP) Dinas Perkebunan Provinsi Sulbar, Abdul Waris Bestari di Mamuju, Jumat, mengatakan, Sulbar membangun unit pengolahan kakao yang disertai gudang fermentasi dan lantai jemur kakao.

Ia mengatakan, UPH yang dibangun tersebut diantaranya terdapat di Desa Batu Ampat Kecamatan Papalang Kabupaten Mamuju dan di desa Pulliwa Kecamatan Bulo Kabupaten Polewali Mandar (Polman).

Menurut dia, UPH yang dibangun tersebut mendapatkan alokasi dana APBN sebesar Rp336 juta.

Ia berharap dengan dibangunnya UPH tersebut maka kualitas kakao yang dihasilkan Provinsi Sulbar akan lebih tinggi sehingga bernilai ekonomis.

"Diharapkan anggaran APBD Sulbar juga disiapkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan alat lainnya pada dua UPH tersebut agar dapat dioperasikan mengolah buah kakao menjadi kakao fermentasi yang kualitasnya lebih baik untuk dikelola menjadi barang jadi," katanya.

Menurut dia, sekitar Rp800 juta dibutuhkan APBD Sulbar untuk pengadaan alat yang dibutuhkan di UPH tersebut agar dapat beroperasi tahun ini.



Monday, March 2, 2015

Industri Kakao Olahan Serap Investasi Rp 6 Triliun
Ilustrasi kakao
Jakarta -Nilai investasi di industri kakao olahan pada 2015 diperkirakan mencapai Rp 5-6 triliun, naik 31,3% dari tahun lalu yang sebesar Rp 4,5 triliun.
“Banyak investor asing yang berniat membangun industri pengolahan kakao di Indonesia, seperti PT Asia Cocoa Malaysia, Barry Callebaut Comextra Swiss, dan Jebe Koko Malaysia,” kata Sesditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Enny Ratnaningtyas kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.
Enny menjelaskan, pertumbuhan industri kakao turut mendorong perkembangan industri hilir cokelat sehingga banyak perusahaan besar melakukan investasi. Selain itu, tingginya permintaan produk kakao olahan baik dari dalam maupun luar negeri, mendorong investor-investor besar berani menginvestasikan dananya di sektor ini.
Hal ini terlihat dari realisasi investasi di industri penggolahan kakao pada 2014 yang sebesar Rp 4,5 triliun. Investasi ini dilakukan oleh beberapa pemain besar di industri kakao olahan, seperti Nestle, Mayora, Indolakto, dan Unilever.
Adanya tambahan investasi tersebut, kata Enny, meningkatkan kapasitas produksi industri pengolahan kakao menjadi 425.000 ton pada 2014, naik signifikan dari 2011 yag masih 250.000 ton.
Enny menegaskan, pemerintah akan terus mendorong masuknya investasi baru di industri kakao olahan. Beberapa kebijakan yang sudah disiapkan untuk mendukung realisasi investasi tersebut di antaranya, pemberian tax allowance dan pembebasan bea masuk atas impor mesin.
Investor Daily
Penulis: Ridho Syukro/PCN
http://www.beritasatu.com/ekonomi/253381-industri-kakao-olahan-serap-investasi-rp-6-triliun.html
Industri Nasional Kekurangan Pasokan Kakao
Ilustrasi kakao

Jakarta- Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Piter Jasman mengatakan, industri kakao olahan dibayangi kekhawatiran kurangnya pasokan biji kakao seiring pesatnya pertumbuhan bisnis tersebut yang tidak diimbangi produktivitas bahan bakunya.
Bahkan, industri kakao olahan nasional terpaksa harus melakukan impor dalam jumlah besar jika kebutuhan bahan baku tidak bisa dipenuhi di dalam negeri. Setidaknya, dibutuhkan tambahan 480.000 ton biji kakao untuk bisa memenuhi kebutuhan industri nasional, naik 100% dibandingkan pasokan saat ini yang masih 480.000 ton per tahun.
Untuk menjamin pasokan bahan baku biji kakao di dalam negeri, Sesditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Enny Ratnaningtyas mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2008 tentang pengenaan bea keluar terhadap barang ekspor.
“Tujuan kebijakan pengenaan bea keluar biji kakao adalah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan melindungi bahan baku industri pengolahan kakao dalam negeri,” ujar dia.
Investor Daily
Penulis: Ridho Syukro/PCN
http://www.beritasatu.com/ekonomi/253383-industri-nasional-kekurangan-pasokan-kakao.html